Advertisement

Breaking News

Showing posts with label >> Perawatan. Show all posts
Showing posts with label >> Perawatan. Show all posts

Saturday, 27 February 2016

Pemeliharaan Ayam Ras Pedaging (Broiler)


Pemberian Pakan dan Minuman
Untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 cara
Ø      Face yaitu fase starter (0-4 minggu)
Ø      Dan fase finisher umur (4-6 minggu)
A.     Kualitas dan kuantitas pakan fase Starter adalah : Kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%, Lemak 2,5%, Serat kasar 4%, Kalsium (CA) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9% ME 2800-3500 Kcal.
B.     Kualitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 golongan yaitu minggu pertama :
1)      Minggu pertama : Umur 1-7 hari, 17 gram/hari/ekor.
2)      Minggu ke dua : Umur 8-14 hari, 43 gram/hari/ekor.
3)      Minggu ke tiga : Umur 15-21 hari, 66 gram hari/ekor.
4)      Minggu ke empat : Umur 22-29 hari, 91 gram/hari/ekor.

Jadi jumlah pakan yang di butuhkan tiap ekor sampai pada umur empat minggu sebesar 1.520 gram



Kualitas dan kuantitas pakan fase finisher adalah :
Kualitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 8,1-21,2%, Lemak 2,5%, Serat kasar 4,5%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, Dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.


Kuantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan  adalah :
1)      Minggu ke lima : Umur 30-36 hari, 111 gram/hari/ekor.
2)      Minggu ke enam : Umur 37-43 hari, 129 gram/hari/ekor.
3)      Minggu ke tujuh : Umur 44-50 hari, 146 gram/hari/ekor.
4)      Minggu ke delapan : Umur 51-57 hari, 161 gram/hari/ekor.

Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.


Pemberian minum di sesuaikan dengan umur ayam yang di kelompokkan dalam 2 fase yaitu : 
fase starter : Umur 1-29 hari, Dan kebutuhan air minum terbagi lagi pada Masing-masing minggu, Yaitu :
1)      Minggu pertama : 1-7 hari, 1,8 liter/hari/100 ekor.
2)      Minggu ke dua : 8-14 hari, 3,1 liter/hari/100 ekor.
3)      Minggu ke tiga : 15-21 hari, 4,5 liter/hari/100 elor.
4)      Minggu ke empat : 22-29 hari, 7,7 liter/hari/ekor.

Jadi jumlah air minum yang di butuhkan sampai 4 minggu adalah sebanyak : 122,6 liter/100 ekor.

Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya di beri tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang di berikan adalah : 50 gram/liter air. 

fase finisher : Umur 30-57 hari, Terkelompok dalam Masing-masing minggu, Yaitu :
1)      Minggu ke lima : 30-36 hari, 9,5 liter/hari/100 ekor.
2)      Minggu ke enam : 37-43 hari, 10,9 liter/hari/100 ekor.
3)      Minggu ke tujuh : 44-50 hari, 12,7 liter/hari/100 ekor.
4)      Minggu ke delapan : 51-57 hari, 14,1 liter/hari/ekor.

Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak : 333,4 liter/hari/ekor.





Sekian dan Semoga Artikel ini Bermanfaat untuk kita semua, Terima Kasih . .




Cara Merawat DOC Anak Ayam Agar Tidak Gampang Mati


Untuk ayam yang baru menetas dari induk nya, misalnya ayam menetas awal pagi, anak ayam tersebut jangan langsung di ambil, biarkan dulu tinggal sama induk nya di sarang, kira2 selama 17 jam. Ketika ayam mau di masukan ke dalam kotak kandang [seperti yang kita lihat pada gambar atas], sebaiknya, nyalakan lampu yang ada di dalam kotak tersebut, 2 jam sebelum anak ayam / DOC di masukan.

Didalam kotak tersebut, jangan menggunakan sekam sebagai alas nya, sebaiknya menggunakan koran bekas sebagai alas (pengganti sekam). gunakan sekam setinggi 5 lembar. Jadi koran bekas (tapi bersih) di tumpuk setinggi 5 lembar, didalam kotak tersebut, agar kondisi suhu di dalam kandang buatan tsb tetap stabil.

Pemberian Air Minum:
Masukan air minum di galon yang berukuran kecil dengan sedikit campuran vitamin.
Misalnya untuk ayam 75 ekor s/d 100 ekor:

* vitamin C - 1 gr
* vit E & selenium - 1 gr
* glucoline - 5gram/liter air

Jika anda tidak mempunyai vitamin2 tersebut, kita bisa membeli glukosa yang biasa di gunakan untuk minuman anak kecil , atau cari saja di toko dengan menanyakan glucoline atau glucose. Tujuan di beri glucoline adalah, untuk mengurangi dehidrasi selama di sarang atau di mesin tetas, atau selama perjalanan (kalau membeli anak ayam dari tempat jauh)

Untuk 100 gram glucoline bisa menghasilkan
* Energy- 375 (kcal)
* carbohydrates 99 gram
* vit c 100 mg

Bagai mana jika tidak menemukan glucoline? tidak di dapat di toko atau mahal?
Jangan kuatir kita akan mencari alternative lain yang fungsi nya sama.

Gunakan gula merah sebagai pengganti dari glucoline:
Gula merah di sini adalah gula aren , tahu tidak gula aren? saya juga sering melihat gula merah di pasar, akan tetapi gula tersebut bukan gula aren, tapi gula yg terbuat dari tebu, ya tidak apa2 walaupun tidak ada gula aren, gunakan saja gula merah yang di buat dari tebu , akan tetapi bila gula aren ada, sebaiknya gunakan saja gula aren.

Dosis gula merah untuk 75 ekor ayam:
Dosis yang di gunakan adalah , 2 gram gula merah, di campur dengan air 1 sampai 1,5 litter, hati2 jika dosis yang di gunakan berlebihan, anak ayam atau DOC akan mengalami mencret.

Cara penyajian:
Gula merah untuk minuman anak ayam tadi,
rebus air 1.5 liter sampai mendidih
Masukan gula merah kedalam air yang masih mendidih tunggu sampai hancur.
Jika gula merah sudah masak (menurut perkiraan) dinginkan air rebusan gula merah tersebut, ketika sudah dingin, berikan kepada anak ayam yang berada di kotak pemanas tadi.

Jika gula merah tidak ada, boleh juga menggunakan semangka merah yang sudah masak, buang bijinya dan kasih semangka kepada anak ayam, sebagai makanan pertama .

Semangka adalah sudah lama di gunakan untuk menghantar anak ayam ke tempat yang jauh, saya juga sering memberikan buah semangka ke pada anak ayam, jika anak ayam mau di hantar keluar negri, atau kira2 perjalanan melebihi 10 jam.

ok kita lanjutkan- sebelum memasukan anak ayam kedalam kotak tersebut [baca artikel sebelumnya di sini], kehangatan sudah mencapai 30 sampai 32 derajat celcius, atau minimal 28 samapi 30 derajat celcius.

Jika pemanas sudah di masukan dan air juga sudah di siapkan, dan suhu kehangatan sudah stabil, lalu kita masukan anak ayam kesayangan kita yang 75-100 ekor tsb, tapi jangan di kasih makanan dulu.

Biarkan anak ayam atau DOC meminum air gula sampai 2 jam, untuk memastikan anak ayam minum air gula tersebut.

Ketika 2 jam sudah berlalu, dan anak ayam sudah minum air gula tsb, (gula sebagai alternative untuk menggantikan glucoline atau elektrolite yang berfungsi untuk mengembalikan atau menstbabilkan energy yang ada di dalam tubuh ayam, jika ayam mengalami dehydrasi , maka dengan memberikan air gula, glucoline, elektrolyte dll, cairan di dalam tubuh ayam akan kembali normal.)

Ok- 2 jam sudah berlalu, kita tinggal meberi makanan anak ayam, untuk makanan, sebaiknya mebeli makanan untuk broiler starter, atau untuk permulaan, sebelum di berikan kepada anak ayam, sebaiknya makanan tersebut kita tumbuk dulu, untuk memastikan butiran makanan lebih kecil. hanya untuk makanan pertama saja kita tumbuk sampai halus, untuk kedua kalinya , makanan tsb, tidak usah di tumbuk lagi, karena anak ayam sudah mengetahui cara makan nya.

Jika tidak di tumbuk, atau butiran makanan terlalu besar, anak ayam yang baru berusia satu hari ini, akan mengalami kesulitan dalam pemakanan, jadi kalau makanan di tumbuk dulu, anak ayam akan langsung bisa menelan butiran yang kecil, dan akan semaik cepat memakan makanan yang kita berikan tadi.
(sumber: teknikpanduanbeternakpakanpeternakan.blogspot.com)Bagai mana jika tidak menemukan glucoline? tidak di dapat di toko atau mahal?
Jangan kuatir kita akan mencari alternative lain yang fungsi nya sama.

Gunakan gula merah sebagai pengganti dari glucoline:
Gula merah di sini adalah gula aren , tahu tidak gula aren? saya juga sering melihat gula merah di pasar, akan tetapi gula tersebut bukan gula aren, tapi gula yg terbuat dari tebu, ya tidak apa2 walaupun tidak ada gula aren, gunakan saja gula merah yang di buat dari tebu , akan tetapi bila gula aren ada, sebaiknya gunakan saja gula aren.

Dosis gula merah untuk 75 ekor ayam:
Dosis yang di gunakan adalah , 2 gram gula merah, di campur dengan air 1 sampai 1,5 litter, hati2 jika dosis yang di gunakan berlebihan, anak ayam atau DOC akan mengalami mencret.

Cara penyajian:
Gula merah untuk minuman anak ayam tadi,
rebus air 1.5 liter sampai mendidih
Masukan gula merah kedalam air yang masih mendidih tunggu sampai hancur.
Jika gula merah sudah masak (menurut perkiraan) dinginkan air rebusan gula merah tersebut, ketika sudah dingin, berikan kepada anak ayam yang berada di kotak pemanas tadi.

Jika gula merah tidak ada, boleh juga menggunakan semangka merah yang sudah masak, buang bijinya dan kasih semangka kepada anak ayam, sebagai makanan pertama .

Semangka adalah sudah lama di gunakan untuk menghantar anak ayam ke tempat yang jauh, saya juga sering memberikan buah semangka ke pada anak ayam, jika anak ayam mau di hantar keluar negri, atau kira2 perjalanan melebihi 10 jam.



Sekian dan Semoga Artikel ini Bermanfaat untuk kita semua, Terima Kasih . .




Friday, 5 February 2016

Cara membuat jamu untuk ayam



Membuat jamu untuk ayam
Banyak macam cara membuat jamu, karena pada dasarnya membuat jamu jauh lebih mudah dibandingkan dengan membeli obat dari toko. Jamu hewan atau ramuan beberapa tanaman obat tersebut dapat dibuat sendiri oleh petani ternak dan harganya lebih murah dibandingkan obat pabrik, tetapi khasiatnya cukup baik untuk pencegahan maupun pengobatan pada ternak unggas. Beberapa diantaranya adalah ramuan jamu hasil pengkajian BPTP Jakarta  yang berfungsi untuk pencegahan terhadap penyakit AI (flu burung/Avian Influenza).

Bahan-bahan tanaman obat yang diramu sebagai jamu untuk pencegahan penyakit flu burung  adalah sbb: Kencur (500 gram), bawang putih (500 gram), jahe (250 gram), lengkuas (250 gram), kunyit (250 gram), temulawak (250 gram), daun sirih (125 gram), kayu manis (125 gram), daun mahkota dewa, EM4 dan molasses atau gula pasir. Bahan-bahan tersebut dipotong-potong kecil kemudian digiling/dibelender dan ditambahkan air 5 liter, kemudian disaring dan diambil ekstraknya. Ekstrak tersebut dimasukkan dalam drum besar (kapasitas 20 liter atau lebih). Tambahkan molases 500 cc, lalu tambahkan lagi dengan air sehingga campuran tersebut menjadi 20 liter, kemudian drum ditutup rapat. Selanjutnya campuran dilakukan fermentasi selama 6 hari. Setiap hari tutup drum dibuka selama 5 menit sambil diaduk. Setelah 6 hari jamu siap diberikan pada ayam. Cara pemberiannya melalui air minum dengan dosis 90 ml air jamu per 1 liter air minum setiap hari.

Ketua Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia mengatakan bahwa  di Indonesia sendiri saat ini tersedia cukup banyak bahan herbal yang bisa digunakan untuk menangkal menyebarnya virus flu burung. Tanaman obat tersebut adalah lidah buaya, temulawak, dan kunyit. Sedangkan  Sri Sulandri (peneliti dari LIPI) mengatakan bahwa pemberian secara rutin jamu ternak yang terdiri atas kunyit, lengkuas, temulawak, kencur dan buah mengkudu yang diberikan pada unggas dapat berfungsi sebagai stamina yaitu untuk menyehatkan dan meningkatkan nafsu makan.

Khasiat tanaman obat juga telah dibuktikan oleh Alex riana (2010) dengan uji cobanya. Alex  mempercayai keistimewaan tanaman obat yang  mempunyai khasiat untuk meningkatkan daya tahan tubuh, meningkatkan nafsu makan, sebagai obat pada berbagai macam penyakit dan mengurangi stress pada ayam.  Dalam uji cobanya alex membuat jamu dengan ramuan dari tanaman-tanaman obat  yang terdiri dari kunyit  (1000 gram), temuireng (1000 gram), temulawak (1000 gram), temu giring (250 gram), mengkudu (500 gram), daun pepaya (5 tangkai) dan cacing (100 gram).  Cara membuatnya adalah sbb: cacing direbus dengan 1 liter air sampai mendidih. Kunyit, temuireng, temugiring, temulawak dan mengkudu diparut menjadi satu, dan daun pepaya ditumbuk sampai halus. Campurkan bahan-bahan tersebut  dan  tambah 4 liter air bersih. Remas-remaslah semua bahan tersebut dan saring. Terakhir tambah dengan 1 liter  rebusan cacing dan aduk sampai rata. Selanjutnya campuran tersebut direbus sampai mendidih  dan setelah dingin dapat digunakan sebagai jamu pada ayam pedaging. Jamu tersebut dapat diberikan dengan cara mencampur ke air minum. Dalam pelaksanaannya pemberian jamu dilakukan setelah ayam berumur 16 hari sampai panen.  Pemberian dilakukan tiga hari berturut-turut selanjutnya diselang dengan air putih.

Manfaat dan Hasil
Dari  hasil penelitian maupun pendapat para ahli diperoleh kesimpulan bahwa ternyata pemberian jamu atau tanaman obat yang dicampurkan baik dalam ransum pakannya maupun air minum ayam dapat bermanfaat atau berkhasiat untuk (1).  meningkatkan daya tahan tubuh ayam (2) meningkatkan pertumbuhan berat badan ayam (3). mengurangi tingkat kematian dan jumlah ayam yang sakit (4)  meningkatkan pendapatan peternak (5).mendapatkan ayam non kolesterol karena lemak yang dihasilkan berkurang (6). mendapatkan karkas ayam yang berbau dan warna yang segar dan (7)  mengurangi bau kotoran ayam (ammonia). Manfaat lain yang diperoleh adalah harga jamu tersebut lebih murah, menjaga stamina tubuh, menambah nafsu makan, mencegah serta mengobati beberapa penyakit seperti penyakit gangguan pernafasan (Snot dan CRD), koksidiosis, diare maupun feses hijau dan menghindarkan unggas dari serangan virus flu burung (Avian Influenza/AI).

Manfaat dari khasiat jamu untuk ternak sudah lama diteliti oleh beberapa peneliti. Salah satu  dilakukan olehbapak Sumadi, sebagai seorang peneliti dan juga sebagai dosen di salah satu universitas di Semarang. Beliau meramu tanaman obat-obatan yang terdiri dari buah cabe jawa (Piper retrofractum Vahl), ekstrak rimpang temu lawak (Curcuma xanthorriza Roxb), ekstrak rimpang temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb), bubuk rimpang lempuyang wangi (Zingiber aromaticum, Val), madu lebah, gula tebu sebagai pengawet alamiah, dan air. Ramuan tersebut  diberikan pada ayam sebagai penangkal unggas terhadap penyebaran flu burung. Dalam uji cobanya, beliau memasukkan ayam mati yang terinveksi flu burung di sekitar kandangnya.  Dari hasil uji cobanya didapatkan ayam-ayam yang diberi jamu hasil ramuannya ternyata semua ayam perlakuannya itu lolos  alias tidak terinveksi flu burung. Hasil uji cobanya kemudian diselidiki lebih teliti lagi oleh Balai Veteriner wates, Yogyakarta. Dan ternyata hasilnya positip. Ayam-ayam yang diberi jamu tersebut memberi respon positip terhadap pertumbuhan ayam,mempunyai stamina ayam yang lebih baik (jarang sakit dan mortalitas rendah), lemak karkas sangat rendah, aroma daging dan telur tidak amis, warna kuning telur lebih oranye/skor diatas 7, serta bau kotoran ayam (ammonia) di sekitar kandang jauh lebih berkurang.

Demikian juga dari hasil uji coba yang dilakukan oleh Alex riana yaitu seorang siswa SMKN Pertanian Kab. Kuningan. Dari hasil uji cobanya terhadap ayam-ayam yang diberi jamu hasil ramuannya didapatkan hasil sbb:
Tabel 1. Perbedaan produktivitas ayam yang diberi jamu dan tanpa jamu dengan masa pemeliharaan  32 hari
komponen
Ayam diberi jamu
Ayam tanpa diberi jamu
Jumlah ayam yang dipelihara 100 ekor 100 ekor
mortalitas 1 persen 3 persen
Ayam hidup 99 ekor 97 ekor
Bobot rata-rata 1,76 kg 1,62 kg
Konsumsi pakan/ekor 2,53 kg 2,58 kg
FCR 1,494 1,587
Indeks per formans 363,9 316,5
Performans
  • Pertumbuhan bulu lebih mengkilat
  • Penampilan lebih lincah
keuntungan Rp. 288.050
Rp. 99.825


Sekian dan Semoga Artikel ini Bermanfaat untuk kita semua, Terima Kasih . .





Cara Mengatasi Kematian Ayam Broiler



Setiap peternak ayam broiler tentu amat mendambakan lancarnya jalan usaha peternakannya, selain tidak adanyahambatan dan rintangan dalam melaksanakan pemeliharaan juga mulusnya jalur pemasaran yang menjadi kunci utama keberhasilan usahanya, peterna (terutama peternak kecil) tidak jarang harus berjuang keras untuk tetap dapat terus hidup dalam gelimangan tantangan dan hambatan.


Hal ini terjadi karena peternak ayam potong umumnya sangat tinggi ketergantungannya terhadap pihak lain, anak ayam umur sehari yang biasanya disebut bibit atau DOC, pakan komplit atau ransum lengkap, obat-obatan dan sarana produksi ternak (sapronak) yang lain harus didapatkan dari agen atau penyalur atau toko sapronak (Poultry Shop) Biasanya diantara kedua belah pihak telah terjalin kerjasama yang sangat baik terutama dalam hal hutang piutang yang dari satu sisi saling menguntungkan keduanya dan sisi lain menjepit ruang gerak peternak, demikian juga dalam hal pemasaran hasil pemeliharaannya, tidak jarang sangat tergantung pada tengkulak yang tentu saja tidak akan menjadi tengkulak kalau tidak menguntungkan.
Dalam dilema keterjepitan inilah peternak ayam pedaging harus dapat berbuat maksimal sehingga dapat menghasilkan keuntungan yang optimal sesuai dengan jerih payahnya.

Kematian pada Minggu Pertama
Seperti disebutkan diatas peternak sangat bergantung kepada Poultry Shop misalnya akan pakan, bibit, obat-obatan dan sapronak lainnya. Hal ini berarti harga yang berlaku di pasaran tidak dapat diganggu gugat kecuali mungkin bagi peternak yang lebih besar atau langganan khusus ada sedikit discount tambahan. Demikian juga harga ayam hidup yang dihasilkan, sebagai pemilik tunggal sekalipun peternak tidak dapat menentukan harga sendiri. Harga pasaran yang berlaku. Bahkan terkadang peternak ayam pedaging dihadapkan pada dilema yang makin mencekam terjepit diantara dua pilihan, meneruskan memelihara dengan resiko menambah biaya pakan atau menjual dengan harga pasaran? Pada pilihan yang pertama tersembunyi juga macam kerugian yang siap menerkam. “Apakah akan ada pasarannya kalau ayam terus dipelihara? “karena hanya konsumen tertentu saja yang mau menerima ayam besar.

Oleh kerena itu agar dapat sedikit bernafas lega diantara himpitan kedua dilema yang menghimpit dan terkaman harimau kerugian yang selalu mengintai maka peternak ayam broiler harus dapat mengelola peternakannya semaksimal mungkin. Merencanakan usaha ternaknya dengan jeli, memilih strain ayam potong yang paling sesuai dengan kondisi alam sekitarnya, menggunakan pakan ternak yang berkualitas, melakukan pemeliharaan yang sebaik-baiknya dan tidak melupakan aspek pasar yang menguntungkan. Dan pada tulisan ini akan dibahas lebih lanjut tentang pemeliharaan khususnya mengenai perlakuan sederhana yang ternyata dapat mengurangi kematian anak ayam pada minggu pertama pemeliharaan.
Terlepas dari adanya wabah penyakit maka umur 1 sampai 7 hari bagi ayam broiler merupakan suatu saat yang sangat rawan terhadap kematian. Bukan hanya karena kondisi bawaan anak ayam yang relatif lemah begitu keluar daricengkeraman kulit telurnya tetapi kondisi ini juga diperparah lagi dengan perlakuan selanjutnya baik pada saat di hatchery, gudang, perjalanan, agen lainnya yang tidak sedikit mengurus waktu dan energi anak ayam yang lebih banyak tidak lagi tepat disebut DOC pada saat diterima peternak dikandangnya. Keadaan makin parah apabila perlakuan dari peternak dan lingkungan barunya yang tidak mendukung. Hal ini tidak mengherankan apabila kematian pada minggu pertama biasanya selalu lebih besar dari pada minggu-minggu berikutnya. Tentu saja terlepas dari adanya serangan penyakit dan bencana yang lainnya.

Air Gula dan Kematian
Pada saat datng ke lokasi peternakan kondisi DOC sedemikian stres-nya (terutama untuk DOC yang bukan grade I) sehingga perlu perlakuan khusus untuk menyambut kehadirannya. Suhu brooder house yang dihangatkan, pemberian air vitamin, antibiotika dan gula pasir sangat diperlukan untuk mengembalikan bahkan meningkatkan kondisi tubuhnya.
Bagi peternak yang sudah berpengalaman tentu perlakuan istimewa ini bukanlah hal yang san aneh, sudah tentu biasa. Kecuali pemberian gula dalam campuran vitamin dan antibiotik banyak yang melupakan atau mengabaikannya. Padahal peran energi yang dikandung dalam pasir putih itu sangat berarti bagi kelangsungan hidup anak ayam.
Dari pengamatan terhadap peternakan ayam potong di sebuah farm di daerah Bekasi – Jawa Barat yang DOC-nya didatangkan dari sebuah Breeding Farm di Bekasi-juga Jawa Barat yang dapat ditempuh dengan jalan dart seitar 6 jam perjalanan ternyata penambahan 3 kg gula pasir dalam larutan vitamin dan antibiotika dalam250 liter air yang cukup untuk 10.000 ekor sangat besar pengaruhnya dalam mengurangi kematian

pada minggu pertama. (Tabel)
Tabel 1 : Pengaruh pemberian gula pasir terhadap kematian anak ayam pada minggu pertama
Perlakuan Kematian (ekor) Keterangan
1. Diberi gula pasir 57 Populasi masing-masing 10.000 ekor dengan DOC
2. Tanpa diberi gula pasir 101 Grade I pemberian vitamin dan antibiotika sesuai dengan dosis yang dianjurkan

Dari tabel dapat dilihat kematian anak ayam yang tanpa diberi gula pasir dalam campuran antibiotika dan vitaminnya hampir 2 kali lipat lebih banyak. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan peternak.
Kerugian yang diderita peternak bukan hanya karena uang pembelian DOC yang amblas tetapi biaya pembelian pakan yang sangat mahal juga lenyap mengikuti kematian anak ayam demikian juga biaya-biaya lainnya yang tidak dikeluarkan. Padahal kematian yang fantastis ini dapat dicegah dengan cara yang sederhana dan mudah serta murah. Cuma dengan pemberian gula pasir yang sangat sedikit, 3 kg untuk 10.000 ekor!

Yang lebih penting dari berkurangnya kematian anak ayam pada minggu pertama adalah semangat beternak dari peternak dalam menggeluti usaha ternaknya. Itulah yang lebih mahal dan tidak dapat dibeli karena tidak ada yang menjual!


Sekian dan Semoga Artikel ini Bermanfaat untuk kita semua, Terima Kasih . .





Proses Pemeliharaan



Penting dan sangat perlu perhatian khusus dalam hal pemeliharaan dan perawatan ayam potong, sebagai berikut :


  1. Minggu Pertama (hari ke-1-7)
  2. Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis + 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis + 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).

    Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen air minum sudah berupa air dingin dengan penambahan POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau VITERNA Plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari (diberikan saat pemberian air minum yang pertama). Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4.


  3. Minggu Kedua (hari ke 8 -14)
  4. Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 33 gr per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam.

  5. Minggu Ketiga (hari ke 15-21)
  6. Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gr per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyak-banyaknya. Perlakuan vaksin tersebut juga tetap ditambah POC NASA atau VITERNA Plus dengan dosis tetap.

  7. Minggu Keempat (hari ke 22-28)
  8. Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gr per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit.

  9. Minggu Kelima (hari ke 29-35).
  10. Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gr per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 - 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen.

    Minggu Keenam (hari ke-36-42). Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg. 
     
     
     
     
     

Friday, 29 January 2016

Cara Menjaga Kebersihan Kandang Ayam



Selain masalah teknis, kebersihan kandang juga perlu diperhatikan agar penghuninya tidak gampang terserang penyakit akibat kuman-kuman yang bersarang di lingkungan kandang. Supaya kondisi kandang selalu bersih dan terjaga, kotoran-kotoran yang ada di dalam kandang harus dibersihkan setiap hari. Namun perlakuan ini belum menjamin kandang bebas dari bibit-bibit penyakit.



Ayam merupakan jenis unggas yang mudah terserang penyakit menular seperti tetelo, berak kapur, kolera dan cacar. Pencegahan dengan vaksinasi saja rasanya belum cukup tanpa dibarengi dengan sanitasi kandang. Vaksinasi hanya bertujuan untuk memberi kekebalan pada ayam, bukan membasmi kuman sebagai sumber penyakit.

Untuk membunuh kuman, kandang harus dibersihkan dari hama secara teratur. Paling tidak satu tahun sekali. Larutan kimia yang bisa digunakan di antaranya, lisol, karbol, atau kreolin dengan perbandingan bahan aktif 10 sampai 30 cc dan 10 liter air.

Bisa juga menggunakan 10 gram kalium permanganat (KP) yang dilarutkan dalam 10 liter air. Cara yang lebih mudah adalah dengan cara menaburkan kapur tohor ke seluruh bangunan kandang.

Tips Membersihkan Kandang Ayam
  • Semprot langsung dengan desifektan dan insektisida setelah ayam keluar dan keluarkan semua peralatan dari kandang.
  • Buang dan bersihkan semua kotoran dari kandang.
  • Semprot seluruh bagian kandang termasuk atap, lantai, dinding, layer dan bagian lain dengan air sabun (deterjen), gunakan tekanan rendah.
  • Kerok dan sikat sampai bersih sisa kotoran ayam dari slat dan dari permukaan kandang lain ketika masih basah. Untuk membilas, semprot dengan air yang bertekanan tinggi atau gunakan air hangat.
  • Lakukan reparasi kandang dan perawatan lantai apabila dibutuhkan seperti pemberian garam dapur (NaCI) untuk membunuh cacing, kapur untuk membunuh coccidia, tawas untuk membunuh kutu.
  • Bersihkan gudang peralatan, gudang pakan dan fasilitas-fasilitas lain dalam area farm, sapu, sikat dan hilangkan sarang laba-laba. Untuk kandang yang menggunakan bin (tangki penyimpanan pakan), buang sisa pakan pada bin, dan bersihkan atau sikat bin.
  • Musnahkan hama tikus dan serangga.





Vaksinasi Ayam Potong / Broiler



Dalam keadaan normal, di mana penularan penyakit sangat rendah, maka vaksinasi yang dilakukan lebih sedikit. Apalagi siklus hidup ayam broiler sangat pendek; 6-7 minggu telah keluar dari kandang untuk dijual. Keadaan ayam yang demikian, cukup dilakukan vaksinasi tunggal terhadap ND, yaitu pada umur 10-15 hari melalui air minum atau tetes mata/mulut. Akan tetapi apabila dirasa resiko penularan penyakit sangat tinggi,



maka vaksinasi terhadap ND ini dilakukan dua kali, yakni umur 1 hari dan umur 3-4 minggu. Sedangkan untuk vaksinasi IB (Infeksi Bronchitis), Gumboro, dan Marek hanya  dilakukan bila ada resiko infeksi penyakit yang tinggi. Untuk jelasnya perhatikan jadwal dan petunjuk vaksinasi serta pelaksanaan sebagai berikut:

A.     Jadwal vaksinasi.

Vaksinasi
terhadap
penyakit
KEADAAN PENYAKIT
Normal
Resiko infeksi penyakit tinggi

ND
IB
Gumboro
Marek


Umur 10-15 hari

Umur 1 hari dan 3-4 minggu
Umur 1 hari dengan semprot
Umur 4-14 hari
Umur 1 hari


B.     Beberapa petunjuk dalam melakukan vaksinasi.
Agar vaksinasi berhasil seperti apa yang dimaksud, maka di dalam melakukan vaksinasi perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1.      Ayam yang divaksinasi hanyalah ayam-ayam yang sehat saja.
2.      Apabila perlaksanaan vaksinasi melalui air minum, maka:
Ø      Tempat minum harus dicuci baik-baik, tetapi tidak diperkenankan menggunakan desinfektan detergent, sabun, dan lain-lain
Ø      Air minum yang dipergunakan untuk mencampur vaksin hendaknya tidak mengandung chloor atau zat-zat lainnya, yang sekiranya bisa mematikan virus. Oleh karena itu agar vaksin ini aman, dianjurkan menggunakan air sumur, aquadest, air hujan, dan lain sebagainya, tetapi jangan menggunakan air leiding.
Ø      Dua sampai 4 jam menjelang dilaksanakan vaksinasi, ayam harus dipuasakan terlebih dahulu. Sebab vaksin yang sudah dilarutkan ke dalam air minum harus habis selama 2-3 jam.
3.      Bila vaksinasi harus dilaksanakan secara suntikan, penganglah ayam bersebut dengan hati-hati. Cara-cara penangkapan atau pemegangan jangan sampai kasar, sebab bisa mengakibatkan stress.
4.      Vaksin harus diusahakan terhindar atau terlindungi terhadap sinar matahari.
5.      Sesudah botol vaksin habis terpakai, maka botol atau sisanya harus  dimusnahkan, dibakar, atau direndam dalam air panas.
6.      Obat antistress harus dilakukan pada saat menjelang vaksinasi dan sesudahnya.

C.     Pelaksanaan vaksinasi.
1.    Tetes mata
Vaksin di teteskan pada salah satu mata dengan menggunakan pipet. Jarak antara unjung pipet dengan mata 1 cm. pada saat ditetes, mata harus terbuka sehingga vaksin bisa masuk dan meresap. Untuk itu, maka harus ditunggu agar mata yang habis ditetas itu dipejamkan. Mengenai dosis vaksinasi dengan cara ini biasanya cukup 1 tetes/ekor. Namun demikian demikian selalu dianjurkan agar para peternak dalam melaksanakannya selalu memperhatikan petunjuk dari pabrik yang bersangkutan.

2.    Tetes hidung
Pada cara ini, penetesan dilakukan tepat dilubang hidung dan pada saat dilakukan penetesan, lubang hidung yang sebelah harus ditutup dengan salah satu jari, sehingga vaksin bisa langsung meresap.

3.    Melalui air minum
Vaksinasi dengan cara ini dilaksanakan sebagai berikut:
·     Air minum yang dipergunakan untuk melarutkan vaksin harus benar-benar bersih, tak mengandung bahan-bahan desinfektan seperti detergent, sabun, dan lain-lain.
·        Air minum yang dipergunakan diambil dari air sumur, aquadest, air hujan, dan lain sebagainya, tetapi jangan menggunakan air leiding.

4.    Injeksi
Dengan cara ini ayam dipegang satu persatu untuk diinjeksi dengan dosis tertentu sesuai dengan anjuran pabrik. Pada umumnya injeksi dilakukan secara intramusculair (masuk ke dalam otot) dada, atau paha. Cara ini banyak pula dilaksanakan oleh para peternak, karena pelaksanaanya mudah dan efektif, sebab dosis vaksin yang dimaksud bisa lebih tepat dari pada melalui air minum. Akan tetapi cara ini juga tak lepas dari suatu kelemahan, antara lain:
·        Injeksi memakan waktu cukup lama, apalagi kalau jumlah ayam yang harus di injeksi cukup besar.
·        Ayam akan stress, lebih-lebih kalau cara penangkapannya dan pemegangannya terlalu kasar. Oleh karena itu, dianjurkan agar pelaksanan vaksinasi dengan cara injeksi dilakukan pada sore hari atau malam hari. Sebab pada saat itu ayam lebih tenang.